Banner Bawah Utama

Di Sosialisasikan Pemrov Sulut, Agustus -September 2018 Dilakukan Imunisasi Campak dan Rubella

Di Sosialisasikan Pemrov Sulut, Agustus -September 2018 Dilakukan Imunisasi Campak dan Rubella

Manado, PilarSulut.com – Campak dan rubella adalah penyakit infeksi menular melalui saluran napas yang disebabkan oleh virus campak dan rubella. Campak dan rubella sangat menular. Anak dan orang dewasa yang belum pernah mendapat imunisasi campak dan rubella, atau yang belum pernah mengalami penyakit campak dan rubella adalah orang yang berisiko tinggi tertular penyakit ini.

Bahaya dari penyakit ini adalah, campak dapat menyebabkan kompilasi yang serius seperti diare, radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), kebutaan, gizi buruk dan bahkan kematian. Sedangkan rubella biasanya berupa penyakit ringan pada anak, akan tetapi bila menulari ibu hamil pada trimester pertama atau awal kehamilan, dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang dilahirkan. Kecacatan tersebut dikenal sebagai sindrom rubella kongenital yang meliputi kelainan pada jantung, kerusakan jaringan otak, katarak, ketulian dan keterlambatan perkembangan.

Pentingnya pencegahan dini terkait risiko dan dampak negatif jika balita dan anak-anak tidak diberikan imunisasi campak dan rubella maka oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemrov Sulut) turut serta bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus mensosialisasikan ini kepada masyarakat.

Hal ini pun diungkapkan pada Temu Media Kampanye Nasional Imunisasi Campak Dan Rubella Provinsi Sulut 2018, yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Manado, Jumat (20/07/2018) sore.

Acara yang dibuka oleh Gubernur Sulut Olly Dondokambey, SE yang diwakili PLH Kadis Kesehatan Sulut, dr Rima Lolong menyampaikan kiranya kedepan Indonesia lebih khusu sulawesi utara mampu membebas anak anak dari penyakit tersebut maupun penyakit lainnya. Pemrov sulut mempunyai komitmen kuat untuk mencegah dan mengendalikan penyakit campak dan rubella serta kecacatan bawaan akibat rubella 2020.

“Untuk mewujudkan eliminasi dan pengendalian kedua penyakit tersebut maka dilaksanakan strategi nasional berupa pemberian imunisasi campak rubella tambahan, karena kalau campak itu bagian dari imunisasi wajib atau rutin. Jadi ini imunisasi tambahan untuk anak usia 9 bulan sampai kurang dari 15 tahun”, kata dr Rima mbacakan sambutan Gubernur.

Sementara Dr. dr. Hesty Lestari SPA (K) dari Komda KIPI Sulut yang tampil sebagai narasumber, menjelaskan risiko dan dampak negatif jika balita dan anak-anak tidak diberikan imunisasi campak dan rubella.

“Tahun 2000 kematian anak-anak di dunia akibat campak berjumlah 562.000. Indonesia berada di peringkat ke-6 angka kematian paling tinggi. Campak dan rubella adalah penyakit sangat menular. Penularan virus melalui percikan ludah dan batuk. Gejala campak dan rubella itu mirip, demam, bercak kemerahan, batuk, pilek,” jelas dr Hesty Lestari.

Pencegahan penyakit campak dan rubella melalui imunisasi dimulai imunisasi anak-anak di usia 9 bulan, lanjutan imunisasi usia 18 bulan, bias kelas 1 SD dan tambahan MR.

“Target UNICEF penyakit campak dan rubella punah pada 2020 seperti penyakit cacar yang bisa hilang karena program imunisasi teratur,” tukas dr Hesty.

Terkait isu imunisasi campak dan rubella yang mengandung vaksin babi, Dia mengatakan bahwa isu tersebut tidaklah benar.

“Sudah diakui oleh MUI bahkan hari inipun penandatanganan dukungan kampanye dihadiri MUI Sulut,” jelas dr Hesty.

Bagi para orang tua yang sengaja tidak mau mengimunisasi balita dan anak-anak, diingatkan dr Hesty Lestari, bisa dipidana karena melanggar peraturan perundang-undangan.

“Melanggar undang-undang kesehatan dan undang-undang perlindungan anak. Imunisasi itu wajib, untuk memutus mata rantai campak dan rubella,” tegas dr Hesty.

Ditambahkan dr Hesty Lestari, imunisasi campak dan rubella akan dimulai 1 Agustus 2018, diawali tim mendatangi sekolah-sekolah di 28 provinsi yang masuk jadwal fase kedua menyasar anak-anak berumur di bawah 15 tahun.

“Selanjutnya pada September 2018 menyasar balita 9 bulan di Posyandu dan Puskesmas dan anak-anak yang belum diimunisasi. Paling utama kami sampaikan bahwa program imunisasi ini gratis, dianggarkan di APBN 1,7 triliun rupiah,” terang dr Hesty.

Dukungan untuk Kampanye Nasional Imunisasi Campak dan Rubella di Provinsi Sulawesi Utara dibacakan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sulawesi Utara, dr Franky Maramis.

Dijelaskan dr Franky Maramis, kampanye Nasional Imunisasi Campak dan Rubella (MR) di Indonesia menyasar sekitar 70 juta anak yang terdiri atas 2 tahap yaitu fase 1 tahun 2017 di 6 provinsi di pulau Jawa yang telah mencakup 37 juta anak dan fase 2 tahun 2018 di 28 provinsi lainnya yang menargetkan 31.963.000 anak usia 9 bulan – 15 tahun.

Keberhasilan program ini sangat penting dalam pembangunan kesehatan anak di Indonesia, untuk itu diperlukan adanya komitmen dan dukungan bersama untuk menyukseskan kegiatan ini.

Berbagai pemangku kepentingan ikut berkomitmen untuk menyukseskan Kampanye Nasional Imunisasi MR dan program imunisasi rutin agar berhasil menjangkau setiap anak dengan angka cakupan sasaran minimal 95 persen di setiap wilayah.

Melalui berbagai upaya dan ikhtar diantaranya dalam bentuk komunikasi, informasi, edukasi, advokasi dan sosialisasi dalam rangka menyukseskan pelaksanaan imunisasi MR pada Agustus dan Septeber 2018.

“Kami berkomitmen untuk menyukseskan Kampanye Nasional Imunisasi MR di Provinsi Sulawesi Utara,” terang dr Franky Maramis.

Diketahui, pada kesempatan itu dilakukan penandatanganan dukungan Kampanye Nasional Imunisasi Campak dan Rubella diantaranya dari Pemprov Sulut, MUI Sulut, Sinode GMIM, Komda KIPI, UNICEF, PPNI, Forum Kerukunan Umat beragama dan Jurnalis Independen Pemprov Sulut. (Khay)

Komentar Facebook

komentar

Baca Juga

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *