Banner Bawah Utama

Mahasiswa Lintas Agama Galang Kerukunan di Sulut

Mahasiswa Lintas Agama Galang Kerukunan di Sulut

Manado, Pilarsulut.com – Forum Mahasiswa Lintas Agama Sulawesi Utara (Sulut), menggelar dialog kebangsaan dengan tema “Dengan Semangat Religiusitas dan Kebhinekaan Kita Cegah Konflik Bernuansa SARA Dalam Rangka Meningkatkan Stabilitas di Sulut”, bertempat di Aula DPD RI Manado, Selasa (13/12).

Dialog kebangsaan ini digelar untuk menangkal bahaya isu-isu negatif yang dapat merusak persatuan dan kesatuan Republik Indonesia, dengan menghadirkan pembicara yang mewakili tokoh pemuda lintas agama, maupun dari unsur pemerintahan, diantaranya ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Manado, Rusli Umar, Ketua Ormas Kristen, Benteng Steven Kembuan, dan Kesbangpol Manado yang diwakili Kabid ideologi ketahanan dan wawasan kebangsaan, Abdul H Aboba.

Kabid Kesbangpol Manado, Abdul H Aboba mengatakan, pemerintah saat ini telah menjalankan program Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) yang mendorong pengetahuan tentang kebhinekaan terhadap seluruh level masyarakat khususnya di Kota Manado.

Menurutnya, pihaknya terus melakukan pendidikan kebangsaan terhadap remaja Masjid, pemuda Gereja dan kelompok-kelompok beragama lainnya. “Kita juga turun ke sekolah-sekolah agar pendidikan tentang pancasila, undang-undang dasar dapat dipahami dan dipraktekkan sejak dini oleh anak-anak bangsa,” ungkap Aboba saat menjadi pembicara.

Sementara itu, Ketua GP Ansor Manado, Rusli Umar menjelaskan, konflik-konflik yang mengarah ke sentimen-sentimen dan ketersinggungan agama di Indonesia saat itu adalah merupakan setingan politik global. Ia mencontohkan, peristiwa bom Gereja di Samarinda Kaltim dan juga Sumatera Utara beberapa waktu lalu adalah upaya kelompok radikalisme fundamentalisme menggambarkan kesiapan mereka terhadap organisasi ekstrimis seperti ISIS yang berencana memindahkan pusat konflik apakah Indonesia atau Filipina.

“Seperti kasus Ahok, Islam turut mengapresiasi apa yang telah diperbuat Ahok untuk umat Islam khususnya di Jakarta, puluhan Masjid di bangun, para tokoh agama Islam diberangkatkan Haji dan juga perubahan tempat lokalisasi menjadi kawasan religi,” ujar Abeng, aktivis muda NU.

Ketua Ormas Kristen, Benteng Steven Kembuan, menyatakan, kita sebenarnya di Sulut sudah lama saling mentolerir kehidupan beragama. “Sudah sejak dahulu kala saling menghargai dan menghormati ditunjukan dan telah melekat. Sekarang yang menjadi persoalan adalah bentuk kerjasama para tokoh agama agar dapat lebih merawat masa depan kerukunan umat beragama di Sulut,” jelas Kembuan.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data Intelejen Lemhanas, Sulut merupakan zona merah potensi terjadi konflik SARA, dan itu harus cepat ditangkal, pihak pemerintah dan aparat yang memberikan klarifikasi. Pemicu seperti pelarangan pembangunan Masjid dan Gereja belum lama ini pernah terjadi di Bitung dan juga baru-baru ini persoalan status pembangunan Masjid kampung Texas merupakan bola panas yang dapat dimanfaatkan pihak tertentu untuk memecah belah kerukunan di Sulut.

“Para pemangku kepentingan harus secepat mungkin menangkal dan melakukan tindakan di lapangan, agar segala potensi konflik tidak bakalan pernah terjadi di daerah yang sangat terkenal kehidupan kerukunan di seluruh Indonesia bahkan di dunia ini,” terang Kembuan.

Terpantau, kegiatan ini dihadiri berbagai elemen kelompok, seperti Brigade Manguni, utusan organisasi mahasiswa, serta perwakilan kampus keagamaan yang ada di Sulut. (***)

Komentar Facebook

komentar

Baca Juga

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *