Banner Bawah Utama

Bupati Bolmong Bersama Kementerian PUPR Tinjau Lokasi Padat Karya

Bupati Bolmong Bersama Kementerian PUPR Tinjau Lokasi Padat Karya

Bolmong,PilarSulut.com – Program Padat karya Cash yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat menyasar 12 Kabupaten pada 10 Provinsi, salah satunya Kabupaten Bolaang Mongondow. Program ini nantinya menyasar sejumlah pekerjaan diantranya peningkatan tata guna air irigasi, Operasi dan Pemeliharaan Irigasi, dan pengembangan Inflastruktur Sosial.

Jumat 5/1, malam, Bupati Bolmong Yasti Soepredjo menjamu tim Kementerian PUPR yang ke esokan harinya akan melakukan peninjauan lapangan untuk lokasi Program Padat karya. Bupati dalam peninjauan lapangan bersama Kementrian didampingi Kadis Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) Chany Wayong turun ke desa-desa di wilayah Dumoga Bersatu, dalam rangka meninjau lokasi yang akan menjadi sasaran program tersebut.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Parman Ginano mengatakan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) masuk dari 1.000 desa di 100 kabupaten di Indonesia, yang akan menerima kucuran dana dari program tersebut.

“Di Bolmong rencananya akan dipusatkan di wilayah Dumoga Bersatu, mencakup Kecamatan Dumoga Timur tepatnya di Desa Dumoga dan Kecamatan Lolayan Desa  Kopandakan Dua,”jelasnya.

Parman mengatakan, Bupati melakukan pertemuan dengan para kepala desa, untuk menjelaskan soal manfaat dan sasaran program tersebut, termasuk meninjua desa sasaran dan menjelaskan kualifikasi desa yang menjadi sasaran dari program padat karya cash ini.

“Sasarannya  adalah desa tertinggal dan sangat tertinggal dengan berbagai indicator,” kata Parman.

Di Kecamatan Dumoga Timur ada beberapa desa yang akan menjadi sasaran program tersebut  yakni Desa Dumoga, Kelurahan Imandi dan Desa Modomang.

Sasaran program itu untuk mempercepat pengentasan kemiskinan di berbagai desa. Salah satu dampak dari berbagai program tersebut adalah adanya penurunan angka kemiskinan dan pengangguran di kawasan perdesaan.

Salah satu contoh padat karya adalah proyek infrastruktur. Proyek itu akan dikerjakan secara swakelola. Pekerja proyek diserap dari warga setempat.

Dengan demikian, dana desa tidak hanya digunakan untuk membeli bahan material infrastruktur saja, melainkan juga untuk membayar honor pekerja.

Selain infrastruktur, sektor padat karya lain yang disasar pola baru dana desa yakni, pemberian makanan tambahan dan pelayanan bagi masyarakat.

“Jadi, padat karya ini bukan hanya melingkupi infrastruktur/sarana prasarana saja. Tapi juga masuk ke pelayanan masyarakat,” ujar Parman.(**)

Komentar Facebook

komentar

About The Author

Baca Juga

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *